Cari Dokter

Pterigium
22 Dec 2020
1542 views

Pterigium

Pterigium


Ditinjau oleh: dr. Elisabeth Irma Dewi K, SpM

Pterigium dikenal juga sebagai Surfer’s Eye, yaitu pertumbuhan non-kanker yang sedikit menonjol

dan terlihat pembuluh darah. Pertumbuhan tersebut berasal dari kulit / epitel konjungtiva bulbi yang

tumbuh dari arah nasal mata ke bagian tengah (berbentuk segitiga). Kasus pterigium in tersebar ke

seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. 1 Prevalensi pterigium di

Indonesia pada kedua mata sebesar 3,2%, sedangkan pada salah satu mata sebanyak 1,9%.

Prevalensi pterigium pada kedua mata tertinggi di Provinsi Sumatera Barat (9,4%). Kelompok lansia

ternyata memiliki proporsi tertinggi kejadian pterigium ini yaitu sebesar 15,9% pada usia >70 tahun.

Penyakit ini jarang menyebabkan komplikasi berbahaya. Namun, jika terus tumbuh dan tidak

ditangani pterigium dapat menyebar sampai menutupi pupil mata sehingga mengganggu

penglihatan.

Gejala

Secara umum , pterigium hanya berupa tumbuhnya selaput permukaaan bola mata tanpa ada

keluhan lain. Kondisi lain yang dapat menyertai penyakit ini meliputi:

  1. mata merah,
  2. iritasi, gatal, perih pada mata

3 pandangan kabur

  1. terasa ada yang mengganjal di mata

Penyebab

Hingga saat ini, penyebab pasti pterigium belum diketahui. Namun, beberapa faktor risiko

pterigium antara lain paparan ultraviolet (terutama dari sinar matahari), debu, asap, luka kecil yang

terjadi secara kronik di mata, infeksi bakteri atau virus. Beberapa kondisi seperti defisiensi vitamin A

dan konjungtivitis kronik juga berpotensi menimbulkan pterigium.

Diagnosis

Pterigium dapat dideteksi oleh dokter melalui gejala utamanya, yaitu adanya pertumbuhan

selaput tipis pada permukaan bola mata. Selain itu, untuk memastikan kondisi mata pasien, dokter

akan menjalani pemeriksaan mata dan pemeriksaan yang lebih mendetail bila dibutuhkan.

Berdasarkan stadium pterigium dibagi menjadi 4 derajat, yaitu:

  1. Derajat I: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
  2. Derajat II: Jika pterigium sudah melewati batas limbus dan belum mencapai pupil, tidak lebih

dari 2 mm melewati kornea.

  1. Derajat III: Jika pterigium sudha melebihi derajat II tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata

dalam keadaan cahaya normal.

  1. Derajat IV: jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu

penglihatan.

Pengobatan dan Pencegahan

Kondisi pterigium umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus jika tergolong ringan

dan tidak mengganggu penglihatan atau kenyamanan. Pasien tetap disarankan untuk menjalani

pemeriksaan mata secara berkala untuk memantau perkembangannnya.

Apabila pterigium telah mengganggu kenyamanan dan menghalangi penglihatan, dapat

ditangani dengan pemberian obat-obatan sesuai resep dokter atau dengan operasi. Prosedur operasi

dianjurkan apabila pterigium sudah mengganggu penglihatan sehingga tajam penglihatan pasien

mengalami penurunan.

Setelah operasi, pasien akan diberikan obat-obatan untuk menurunkan risiko komplikasi

sekaligus mencegah kekambuhan pterigium. Pasien disarankan menghindari pajanan sinar matahari,

debu, atau asap yang dapat memicu pterigium. Pemakaian kacamata hitam atau topi saat bepergian

dapat beguna untuk mencegah pterigium atau kekambuhannya.

Referensi:

  1. Voughan, Asbury. Oftalmologi Umum. Ed 17. Jakarta:EGC;2010.
  2. Erry, Mulyani UA, Susilowati D. Distribusi dan Karakteristik Pterigium. Diunduh dari:

https://media.neliti.com/media/publications/21259-ID-distribusi-dan-karakteristik-

pterigium-di-indonesia.pdf.

  1. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Bagian Ilmu Penyakit Mata FK

UGM:Yogyakarta;2005.

  1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Ed 3. Jakarta:FKUI;2008.
  2. Hall, A B. (2016). Understanding and Managing Pterygium. Community Eye Health, 29(95),

pp. 54-56.

  1. Singh, S K. (2017). Pterygium: Epidemiology Prevention and Treatment. Community Eye

Health, 30(99), pp. S5-S6.

Tags:
Healthcare Medical

Search Articles

Recent Posts

Tingkatkan Kesadaran Keselamatan Jalan Raya, Jasa Raharja Bersama RSU Andhika Gelar Sosialisasi Keselamatan Transportasi Komprehensif di Jagakarsa

02 Jul 2026

Kunci Sembuh dari Tuberkulosis (TBC): Kenali Gejala dan Pentingnya Minum Obat Secara Teratur

30 Jun 2026

DAGUSIBU

11 Jun 2026

Memahami Preeklampsia dengan Tenang dan Berdaya

11 Jun 2026

PERAWATAN PASCA PERSALINAN OPERASI CAESAR (SC)

19 May 2026

Demam pada Anak: Kapan Normal, Kapan Harus Diwaspadai?

13 Apr 2026

ASI Eksklusif: Investasi Terbaik untuk Kesehatan Bayi

30 Mar 2026

Expired Date (ED) dan Beyond Use Date (BUD) pada Obat

18 Mar 2026

Tanda-Tanda Infeksi pada Pasien Post Operasi: Kenali Sejak Dini, Cegah Komplikasi

12 Mar 2026

Diet Gizi Seimbang VS Diet Viral : Mana yang Lebih Aman dan Efektif ?

09 Feb 2026

Nyeri Dada: Kapan Harus Waspada

09 Feb 2026

Apa itu Katarak?

24 Dec 2025

Apa itu Hipertensi?

27 Nov 2025

Mengenal Diabetes Mellitus: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

05 Aug 2025

Kenali Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

05 Aug 2025

MANFAAT PEMBERIAN ASI EKSLUSIF

11 Jun 2025

BATU SALURAN KEMIH

30 Apr 2025

ASMA BIKIN RIBET? TENANG ADA SOLUSINYA!

11 Mar 2025

MITOS & FAKTA MAKANAN SEHAT

13 Mar 2025

Bagaimana penggunaan obat pada saat puasa?

23 Mar 2023

Tips Agar Tetap Sehat di Musim Penghujan

10 Jan 2023

Tanda – tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir

05 Oct 2022

PREEKLAMSI PADA MASA POST NIFAS

24 May 2022

Manfaat Pijat untuk Si Kecil

27 Dec 2021

Kesuburan Pria dan Wanita

11 Dec 2021

Apakah Pandemi Covid akan berakhir?

09 Dec 2021

Coronavirus

10 Jan 2021

Rokok Elektrik, Nomor 3 Paling Berbahaya!

10 Jan 2021

Tanda Awal Kehamilan Yang Perlu Anda Ketahui

22 Dec 2020

Kanker Paru Penyebab Kematian!

22 Dec 2020

Pterigium

22 Dec 2020

Berita Vaksin Palsu

22 Dec 2020

Bagaimana Proses Persalinan Bayi ?

20 Jun 2023

Logo

Jl. Warung Sila No. 8, RT.06/RW.04, Gudang Baru Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630